Kolaborasi Bedhaya Hargoromo

Kolaborasi Bedhaya Hagoromo

Halo sobat JES! Ketemu lagi sama kita nih.

Kali ini kita akan membahas tentang Tari Bedhaya Hagoromo. Ada yang tau apa tarian ini? Ya, tarian ini adalah karya salah satu seniman tari Indonesia, Didik Nini Thowok. Tarian ini sempat menjadi salah satu big idea bagi ekskul Java Extra untuk event Sannin Party 9th yang bertema Japan and Java. Berikut ini informasi mengenai Tari Bedhaya Hagoromo.

Dikutip dari: https://images.app.goo.gl/rM9p1cQGNgPC36Ui9

Apa itu Tari Bedhaya Hargaromo?

Acara pagelaran Reborn International Dance Performances & Seminar yang digelar pada tahun 2014 lalu oleh Didik Nini Thowok ini diakhiri dengan penyajian karyanya yang diberi nama Tari Bedhaya Hagromo. Tari ini dipersembahkan untuk Sri Sultan Hamengku Buwana X sebagai salah satu wujud terima kasih Didik sebagai penari yang merasa telah diterima, dibesarkan, dan dimekarkan dalam karier tarinya di Yogyakarta.

Bedhaya Hagoromo, seperti yang tersirat dalam namanya, merupakan perpaduan budaya Jawa dan Jepang. Hagoromo sendiri berarti “Jubah Terbang”. Hagoromo merupakan salah satu tari drama Noh yang mengisahkan tentang seorang pemancing bernama Hakuryo yang mengambil jubah milik seorang bidadari yang sedang mandi di sungai. Hakuryo mau mengembalikan jubah terbang milik bidadari tersebut dengan syarat bidadari tersebut mau menarikan tarian langit di hadapannya. Setelah syarat dipenuhi, bidadari bisa terbang kembali ke langit. Cerita ini mirip dengan cerita Jaka Tarub dari Jawa.

Ciri khas tari Bedhaya Hagoromo 

Ciri khas tari Bedhaya Hargaromo yaitu seluruh penarinya adalah laki-laki yang kemudian menarikan tarian perempuan (cross gender) dengan teknik tari dan tingkat penjiwaan dari tari Noh Drama yang bersifat meditatif. 

Bedhaya Hagoromo sendiri pernah dipentaskan Didik pada tahun 2001 dan 2004.
Tata rias-busana yang dikenakan penari Bedhaya Hagoromo sama seperti penari bedhaya putri pada umumnya. Penari Bedhaya menggunakan rias yang disebut jahitan dan busana jamangan, yang terdiri dari kain lerek motif parang, rompi dengan border mote pada tepinya, sampur sutra warna oranye dengan tumpal, jamang berhiaskan bulu, sumping, kalung, kelat bahu, dan slepe. Selain itu ada pula gelang kana, subang, cunduk jungkat, cunduk mentul, ceplok jebehan, dan pelik pada gelung rambut. Sementara Penari Endhel (diperankan oleh Didik Nini Thowok) mengenakan perhiasan kepala Hagoromo yang dihias dengan bunga peony.
Seluruh penari juga menggunakan kipas jenis chukei dan Topeng K-omote seperti yang dipakai pada Tari Hagoromo Noh Jepang. Penari Endhel, selain mengenakan kostum bedhaya seperti lainnya juga ditambah dengan kimono transparan.

Setelah bagian cerita dimana bidadari (Nawangwulan) menangis dan pemancing (Jaka Tarub) memberikan jubah terbang (Hagoromo), semua penari kemudian mengenakan topeng K-omote. Setelah menerima jubah terbang, penari (Didik Nini Thowok) menarikan tari Noh Hagoromo dengan diiringi instrumen kemanak yang dikolaborasikan dengan Ji-Utai Noh Hagoromo. Tari Bedhaya Hagoromo menggunakan iringan Gendhing Kapang-kapang: kandha, Gendhing Ladrang, serta Gendhing Ketawang.

Nah, itu dia sedikit cerita mengenai Tari Bedhaya Hargaromo. Gimana nih menurut kalian?

5 Comentarios

Total Tayangan Halaman